Jelang ulang tahun ke 69 Kemerdekaan Republik Indonesia, seperti apa sih wajah kegiatan penelitian di indonesia kalau dilihat dari sudut pandang publikasi karya Ilmiah? Saya coba masuk ke salah satu data base akademik dan mesin pencari karya ilmiah yang cukup dikenal seperti SCOPUS. Ada 31.369 publikasi karya ilmiah yang muncul untuk pecarian afiliasi negara Indonesia sampai dengan 13 Agustus 2014. Dari jumlah tersebut 26.330 publikasi yang tercatat memiliki afiliasi pada 148 institusi di Indonesia. Lima ribuan publikasi nampaknya terafiliasi pada institusi di luar negeri. Seperti Universiti Teknologi Malaysia 510 publikasi, National University of Singapore 231 publikasi, Nagoya University 200 publikasi dan sebagainya. Dua puluh besar institusi penelitian di Indonesia dengan publikasi terbanyak dapat dilihat dalam diagram berikut:
Berdasarkan data yang diperoleh per 13 Agustus 2014, Institut Teknologi Bandung memimpin dengan total 3900 publikasi karya Ilmiah, disusul Universitas Indonesia dan Universitas Gajah Mada. Meski mayoritas institusi berupa universitas, beberapa nama institusi non universitas muncul pada daftar dua puluh besar ini. Institusi itu adalah:
1. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dengan 1165 publikasi
2. Center for International Forestry Research (CIFOR) dengan 820 publikasi
3. US-Nava Medical Reseacrh Unit No 2 (NAMRU) dengan 446 publikasi
4. Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dengan 351 publikasi.
5. Kementrian Kesehatan dengan 350 publikasi
6. Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) dengan 295 publikasi
Pertambahan jumlah publikasi karya ilmiah terafiliasi Indonesia mengalami pasang surut setiap tahunnya. Dalam lima belas tahun terkahir tren pertambahan karya ilmiah bernilai positif kecuali untuk tahun 2001 dan 2002. Kecenderungan pertambahan positif ini mengindikasikan adanya upaya yang terus meningkat dari peneliti untuk mempublikasikan karya ilmiahnya di berbagai jurnal/forum akademik internasional. Bahkan, publikasi karya ilmiah dalam dalam 15 tahun terakhir men-cover 65% dari total publikasi yang tercatat sejak 1971 (43 tahun). Pertambahan jumlah publikasi tahun 2014, meski negatif, belum perlu diperhitungkan mengingat data publikasi semester kedua belum masuk ke data base.
Apabila diambil rata-rata pertambahan jumlah paper sejak tahun 2000 (15 tahun), produktifitas rata-rata setiap intitusi dapat dilihat pada grafik berikut. ITB terlihat paling produktif dengan rata-rata pertambahan jumlah pubikasi 237,5 paper per tahun. Untuk tahun 2013 saja ITB mampu menhasilkan publikasi karya ilmiah sebanyak 647 dokumen. Artinya ada hampir 2 karya ilmiah dipublikasi setiap harinya!!. UI dan UGM kemudian menyusul dengan pertambahan rata-rata publikasi 177 dan 111.3 dokumen per tahun.
Rata-rata pertambahan jumlah publikasi karya ilmiah per tahun tidak selalu berkorelasi dengan jumlah kumulatif publikasi suatu intitusi. Dari grafik diatas dapat dilihat, Meski jumlah kumulatif publikasi karya ilmiah UNBRAW dibawah UNPAD, akan tetapi rata-rata pertambahan publikasi karya ilmiah UNBRAW lebih tinggi dari pada UNPAD. Begitupun dengan UNHAS dan UNSYIAH.
Kalau jumlah publiksasi karya ilmiah saya bagi dengan pengarangnya (Document/Author) akan diperoleh informasi seperti diagram berikut. Jumlah karya ilmiah per pengarang untuk setiap institusi ternyata relatif sama, pada kisaran 1.5 publikasi per orang. Anomali yang menarik terlihat dari data CIFOR. Jumlah publikasi karya ilmiah mencapai hampir 4.5 per orangnya. Artinya institusi yang bersangkutan memiliki peneliti yang sangat produktif dalam menghasilkan karya ilmiah. Apabila diteliti lebih lanjut, ternyata ada beberapa peneliti/author yang berkontrubusi menyumbang 20 -30 publikasi untuk CIFOR, bahkan ada seorang yang berkontribusi dalam 103 publikasi!! Fenomena yang sama terjadi pada LIPI, UNSYIAH, dan BPPT, ada banyak peneiliti dalam institusi tersebut yang sangat produktif menghasilkan karya ilmiah.
Adapun jumlah paten terdaftar dalam data base SCOPUS untuk kedua puluh institusi tersebut dapat dilihat dalam diagram berikut. Kementrian Kesehatan tenyata yang paling banyak mencatatkan jumlah paten, disusul kemudian Universitas Indonesia dan kolaborasi antara Universitas Indonesia dengan Rumah Sakit Dr. Cipto. Nampaknya dalam hal patent, Universitas lebih sedikit menghasilkan paten dibandingkan dengan lembaga penelitian seperti BPPT dan BATAN. Saya kurang faham apa yang menjadi penyebab mengapa tidak ada paten yang terdaftar atas nama ITB misalnya? Apakah paten-paten yang ada di ITB bukan atas nama ITB? ataukah paten terdaftar belum masuk dalam data base SCOPUS? Akan saya coba teliti di kesempatan yang lain.




